Risalah berita islam

Tuesday, March 6, 2018

KHALID BIN WALID: PANGLIMA PERANG YANG DIPECAT KARENA TAK PERNAH BERBUAT KESALAHAN


Pada zaman pemerintahan Khalifah Syaidina Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.
Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, “Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus.” Ya! beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah SAW yang menyebutnya sebagai Pedang Allah yang Terhunus.
Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.
Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.
Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.
Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, “Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap!”
Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.
Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.
Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, “Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?”
“Walaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!” Jawab Khalifah.
“Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?”
“Kamu tidak punya kesalahan.”
“Kalu tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?”
“Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik.”
“Lalu kenapa saya dipecat?” tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.
Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, “Khalid, Anda itu jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah Anda pimpin, dan tak pernah satu kalipun Anda kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjung Anda. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan Anda. Tapi, ingat Khalid, Anda juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong. Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini Anda saya pecat. Supaya Anda tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja Anda tak bisa berbuat apa-apa!”
Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang Ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar. Sambil menangis belaiu berbisik, “Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!”
Bayangkan Sahabat Populer, jenderal mana yang berlaku mulia seperti itu? Mengucapkan terima kasih setelah dipecat. Padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah jenderal yang mampu berlaku mulia seperti itu saat ini?
Hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemaren.
Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, “Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat.”
Dengan tenang Khalid bin Walin menjawab, “Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah.”
***
Sebuah kisah yang sangat indah dari seorang jenderal, panglima perang, Pedang Allah yang Terhunus. Kita bisa mengambil banyak hikmah dari kisah ini. Betapa rendah hati Sahabat Nabi yang mulia ini. Beliau penuh kemuliaan, punya jabatan, populer, dan tak pernah berbuat kesalahan. Namun, ketika semua itu dicabut beliau sedikitpun tak terpengaruh. Beliau tetap berbuat yang terbaik. Karena memang tujuannya semata-mata hanya mencari keridhaan Allah SWT.
Semoga beliau dimuliakan di sisi Allah SWT, amin.
Sumber: bacaanpopuler.com
Share jika bermanfaat

KISAH KSATRIA THARIQ BIN ZIYAD SAAT MENAKLUKKAN ANDALUSIA



Andalusia adalah negeri kaum Muslimin yang pernah ditaklukan oleh panglima perang Thariq bin Ziyad. Thariq berasal dari suku Barbar, Afrika yang kemudian memeluk Islam. Entah mungkin untuk mendiskreditkan perjuangan Thariq bin Ziyad, kata-kata Barbar kemudian jika disematkan kemudian berkonotasi negatif, yang berarti tidak beradab, kejam atau kasar.
Negeri Andalusia yang pernah dikuasai kaum Muslimin dan sempat mencapai kegemilangan di bidang ilmu pengetahuan di bawah pemerintahan Islam kini telah dikuasai Nasrani. Oleh sebab itu, Syaikh Abdullah Azzam -rahimahullah- menyinggungnya dalam kitab “An-Nihayah wal Khulashah”:
“Bahkan jihad itu telah menjadi fardlu ‘ain bukan saja sejak Rusia memasuki Afghanistan, akan tetapi jihad telah menjadi fardlu ‘ain semenjak jatuhnya Andalusia ke tangan orang-orang Nasrani, dan hukumnya belum berubah sampai hari ini.
Dengan demikian jihad telah menjadi fardlu ‘ain sejak tahun (1492 M), tatkala Ghornathoh (Granada) jatuh ke tangan orang-orang kafir — ke tangan orang-orang Nasrani — sampai hari ini. Dan jihad akan tetap fardlu ‘ain sampai kita mengembalikan seluruh wilayah yang dahulu merupakan wilayah Islam, ke tangan kaum muslimin.”
Semoga kisah kegemilangan Thariq bin Ziyad yang dikutip dari kitab “Shuwarun min Hayatil Fatihin” bukan sekedar nostalgia semata, namun bisa menginspirasi dan memotivasi kaum Muslimin untuk berjihad meraih kembali kejayaan Islam.
Thariq bin Ziyad
Sang Penakluk Andalusia
Thariq dilahirkan pada tahun 50 H (670 M), di tengah suku keluarga Berber (Barbar, red.) dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara.
Thariq berperawakan tinggi, berkening lebar, dan berkulit putih kemerahan. Dia masuk Islam di tangan seorang komandan muslim bernama Musa bin Nusair, orang yang dikagumi karena kegagahan, kebijaksanaan dan keberanianya.[1]
Jalan Ke Andalusia
Misi ekspansi pasukan Islam ke luar Jazirah Arab bermula di masa Khulafaur Rasyidin, dengan tujuan menyebarluaskan Islam ke seluruh wilayah yang memungkinkan untuk di jangkau pasukan Islam. Maka tercapailah penaklukan atas Syam (Syiria, Palestina, dan sekitarnya), Irak dan Iran (Persia).
Pasukan muslimin juga berangkat menaklukan Mesir di bawah pimpinan panglima ‘Amru ibnul-‘Ash. Mesir saat itu berada di bawah kekuasaan penjajah Romawi (Bizantium). Setelah masuk ke Mesir, mereka menuju ke arah Burqah, lalu sampailah pasukan Islam ke Tripoli (sekarang ibu kota negara Libya-red.) untuk mengepungnya dan mendudukinya.
Pada masa kekhilafahan Usman bin Afaan, pasukan Islam mulai membuka ekspansi ke kawasan Maghribi (Maroko dan sekitarnya), di bawah komandan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Di dalam pasukan terdapat putra-putra sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.[2]
Tekad dan semangat mereka semakin kuat setelah berperang melawan pasukan Romawi yang dipimpin Jurjir. Ekspansi itu berlanjut cepat hingga memasuki kota Carthago di pantai Utara Afrika, sebelah utara kota Tunis sekarang. Pasukan Islam di wilayah Ifriqiya ini di pimpin oleh komandan Uqbah bin Nafi’. Ia memiliki wawasan yang luas tentang situasi daerah itu. Selanjutnya ia membangun kota Qairawan (Kairaouan) di Tunisia, untuk mengukuhkan keberadaan Islam di bumi Afrika.
Selanjutnya Uqbah bin Nafi’ dan pasukannya bergerak kearah barat dan selatan dan sampai ke Tangier (Arab: Tanja), sekarang Maroko. Dalam perjalanan pulang ke Qairawan ia dihadang gerombolan suku Berber. Uqbah bin Nafi’ terbunuh bersama tiga ratus tentaranya. Ia dimakamkan di suatu tempat yang sekarang dinamai Sidi Uqbah (Tahuda) di Aljazair sekarang.
Kaum muslim menuntut balas atas kematian Uqbah, dan mereka berhasil membunuh Kasilah, komandan perang Berber. Namun, tindakan balas-membalas itu tidak berkepanjangan, sebab orang Berber sudah merasa puas dengan terbunuhnya Zuhair bin Qais yang membunuh Kasilah. Zuhair gugur di Qadisiyyah (Irak).
Dan pada akhirnya pasukan muslimin berhasil menaklukkan wilayah Ifriqiya di bawah komando Hasan bin an-Nu’man al-Ghassani yang berhasil menceraiberaikan pasukan Berber. Ia juga memorakporandakan pasukan Romawi, dan menang dalam perang melawan pasukan Al-Kahin (Sang Dukun) sesudah menaklukkan Bazrat.
Setelah itu datanglah Musa bin Nushair sebagai pemegang komando utama pasukan muslimin di Afrika. Ia meraih berbagai kemenangan sampai jauh ke barat di tepi samudera, dan kembali ke Qairawan sesudah terbina keamanan dan ketertiban.
Saat itulah seorang komandan Berber bersama pasukannya masuk Islam. Ia sebelumnya dikenal sebagai komandan penjaga di Tangier. Ia adalah Thariq bin Ziyad.
Jalan ke daratan Spanyol terbuka luas setelah Julian, pangeran Spanyol di Ceuta (Sabatah) meminta bantuan Musa bin Nusair untuk menyerang dan menjatuhkan Raja Roderick dari bangsa Visigoth yang berkuasa di Spanyol dari ibu kotanya di Toledo. Julian marah karena Raja Kristen Roderick memperkosa adik perempuannya yang ia titipkan ke Raja untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi. Thariq dan Julian pun berkawan dekat.
Menaklukkan Andalusia (Spanyol)
Musa bin Nushair merasa perlu menguji Count (Pangeran) Julian dengan mengirim 500 tentara di bawah komando Tharif ke wilayah yang sampai kini dinamai Tarifa, di ujung paling selatan Spanyol. Orang Arab menamakannya Jazira Tharif (Terifa). Itu terjadi pada tahun91 H.[3]   Tharif membawa misi utama pengintaian kekuatan Kerajaan Bangsa Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.
Gubernur Musa semakin yakin akan kejujuran Pangeran Julian, setelah Pangeran Ceuta itu juga menyiapkan kapal-kapal yang akan digunakan untuk menyerang Spanyol. Dan setetlah mendapat izin dari Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus, Musa pun memutuskan menyerang Spanyol. Apalagi saat itu Raja Roderick di Toledo sedang menghadapi pemberontakan di bagian utara kerajaannya. Untuk melaksanakan misi besarkannya itu, Musa memilih seorang Berber, Thariq bin Ziyad, sebagai Komandan.
Panglima perang Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara, yang mayoritas berasal dari suku Berber, menyeberang ke Spanyol di tahun 711 M. ia mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.
Setelah berhasil menyeberang ke daratan Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil langkah yang hingga sampai kini membuat tercengang para ahli sejarah. Ia membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu. Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan lantang berwibawa, dan tegas.
Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;
“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”
Selanjutnya ia berteriak kencang: “Perang atau mati!” Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh anggota pasukannya.
Dan pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12000 personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Peperangan di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang, dan di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan di tepi sungai.
Gubernur Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Khalifah Al-Walid, melukiskan jalannya peperangan Rio Barbate. “Penaklukan ini berbeda dari penklukan-penaklukan lain. Peristiwa seperti kiamat,” tulisnya.
Kemenangan telak dalam pertempuran di Sungai Barbate itu membentang jalan bagi masuknya Thariq bin Ziyad menuju kota Sevilla yang dijaga oleh benteng-benteng kuat. Tapi sebelum merebut Sevilla, Thariq lebih dulu menaklukkan daerah-daerah lain yang lebih lemah. Sebagian ditaklukkan dengan cara damai, tapi sebagian terpaksa dengan kekerasan karena warga setempat melawan. Mereka bersikap ramah terhadap penduduk yang tidak melawan.
Pasukan Thariq yang sudah lebih besar karena ada tambahan pasukan baru, kini mengarah ke Toledo, ibukota Visigoth (Gotik Barat). Di jalan ke Toledo itu mereka menyapu kota Ecija dimana sempat terjadi perdamaian dan menerima kekuasaan Muslim atas wilayah itu.
Dengan cepat Thariq berusaha menaklukkan sebagian besar tanah Spanyol, yang oleh orang Arab dinamakan Al-Andalus (Andalusia) itu. Ia lalu membagi-bagi pasukannya ke dalam beberapa kelompok. Satu pasukan berhasil merebut Arkidona tanpa perlawanan, dan pasukan lainnya juga dengan mudah merebut kota Elvira dekat Granada. Ia lalu menaklukkan Cordoba dan sebagian wilayah Malaga. Kemudian diteruskan dengan mengepung Granada yang berhasil ditaklukkan dengan jalan kekerasan.
Thariq lalu menuju ibukota Toledo. Di dalam perjalanan dia menyerang kota Murcia dan menghancurkan kerajaannya sampai lumat. Ketika pasukan Islam di Toledo ternyata para pemimpin Gotik telah meninggalkan wilayah itu. Thariq memasukinya dengan mudah. Ketika itu pasukannya didukung pula oleh ksatria-ksatria Kristen lokal yang tak suka kekuasaan Bangsa Gotik Barat di negaranya.
Thariq terus mengejar para pejabat Gotik ke gunung, hingga mendapatkan harta rampasan yang sangat banyak. Harta dan para tawanan dibawa ke Toledo. Di sana para tawanan dipekerjakan untuk membangun kembali kota itu, antara lain dengan membangun 365 tiang terbuat dari batu Zabarjud.
Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Thariq bin Ziyad, dan memerintahkannya untuk menghentikan gerakan, dan tetap berada di tempat surat itu tiba. Tapi, Thariq malah mengumpulkan para pejabatnya, merundingkan strategi perang.  Semuanya berpendapat melaksanakan perintah Musa akan mempersulit strategi perang mereka. Sebab, sudah terbuka untuk merekrut pasukan asal Toledo dan meraih momentum untuk menyerang lawan yang belum menyadari situasi.
Karena itu Thariq melanjutkan penaklukan seraya merekrut milisi dari warga Toledo yang sudah kalah. Thariq mengabarkan keputusannya ini kepada Musa bin Nushair disertai alasan-lasannya.
Ketika pesan Thariq sampai, Musa langsung berangkat ke Spanyol  pada bulan Juni 712 M dengan membawa 18.000 tentara, kebanyakan orang Arab. Dan seperti yang pernah disepakati dengan Thariq, pasukan Musa bin Nushair segera menuju Sevilla, kota terkuat Spanyol saat itu. Sebelum ke Sevilla pasukan Musa menaklukkan Medina Sidon dan Carmona. Musa mengepung ketat kota Sevilla dan akhirnya berhasil menghancurkan kota pusat kebudayaan Spanyol itu.  Namun kota itu ditinggalkan Musa dalam keadaan kobaran api dan ia melanjutkan perjalanan  ke arah Toledo.
Warga Sevilla tetap tak rela terhadap pendudukan oleh pasukan Muslim di sana. Setelah panglima Musa bin Nushair meninggalkan kota itu, milisi Sevilla kembali beraksi mengobarkan pemberontakan. Mereka dapat membunuh tentara Muslim. Mendengar berita itu, Musa segera mengirim anaknya Abdul Aziz, untuk kembali ke Sevilla. Ia sendiri terus menuju Toledo.
Mendengar kabar akan datangnya panglima utamanya, Musa bin Nushair, Thariq segera keluar ke perbatasan Toledo untuk menyambut Musa. Namun Musa sangat marah kepadanya. Thariq dianggap telah mengabaikan perintahnya untuk menghentikan sementara penaklukkan sampai ia datang ke Spanyol. Begitu marahnya Musa sampai ia memasukkan jendralnya itu ke dalam penjara layaknya seorang penjahat.
Di depan sidang dewan pertahanan, Musa menyatakan memecat Thariq bin Ziyad, dengan tujuan memperbaiki segala sesuatu yang telah dilakukan Thariq. Sekalipun Thariq berupaya menjelaskan bahwa keputusannya itu dilakukan demi kemaslahatan kaum Muslimin dan sudah dimusyawarahkan dengan para penasehat, Musa tetap teguh pada pendiriannya. Ia mengganti Thariq dengan Mughits bin Al-Harits, tapi Mughits menolaknya. Ia segan menjadi komandan di atas Thariq sang pemeberani.
Mughits bahkan bertekad membela Thariq bin Ziyad. Diam-diam dia mengirim kabar kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik tentang situasi yang berkembang.  Al-Walid sangat marah mendengarnya. Ia lalu menyurati Musa dan memerintahkan agar kedudukan Thariq dipulihkan sebagai komandan pasukan. Dan Musa menaati perintah pemimpinnya di Damaskus itu.
Kemudian kedua panglima itu bergerak terus ke utara, hingga berhasil menaklukkan Castilla, Aragon dan Catalonia (Barcelona). Keduanya bahkan sampai ke pegunungan Pyrennes yang menjadi batas antara Spanyon dan Perancis. Sekiranya tidak ada perintah dari Damaskus untuk menghentikan penaklukan, niscaya gerakan mereka berdua tak tertahankan untuk menguasai seluruh benua Eropa.
Perjalanan hidup panglima Thariq bin Ziyad, sang penakluk Spanyol yang agung telah menjadi bagian dari sejarah patriotisme Islam melalui penaklukan Andalusia. [Widad/Miftahul Jannah]
Share jika bermanfaat

KISAH RUMAH TANGGA YANG ROMANTIS


Suatu ketika Rasulullah SAW mengajak istrinya Aisyah RA berlomba pacuan kuda. Aisyah mengatakan: “Rasulullah beradu kecepatan denganku, dan aku berhasil unggul dalam hal kecepatan.” Sebagai pemimpin perang yang tangguh semestinya Rasulullah menang atas Aisyah. Kenyataannya tidak. Aisyah yang menang.
Aisyah melanjutkan kisahnya: “Namun saat badanku berbobot (bertambah gemuk, red) kami kembali beradu kecepatan, dan beliau mengungguliku.” Rasulullah menyindir: “Ini sebanding dengan keunggulan sebelumnya (point sekarang 1-1, red).” (HR Ahmad dan Abu Daud)
Kewajiban pertama seorang suami terhadap istrinya adalah mempergaulinya dengan baik. Allah SWT berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka karena suatu hal, (ingatlah) bahwa dalam segala hal Allah menjadikan kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19).
Salah satu cara mempergauli istri dengan baik, seperti dipraktikkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas, adalah menciptakan suasana romantis dalam rumah tangga. Salah satu kiatnya adalah dengan mengadakan permainan-permainan. Imam Ahmad dalam Sunan-nya mengatakan, Rasul bersabda, ada tiga permainan yang tidak sia-sia. Salah satunya adalah permainan yang dilakukan bersama istri untuk menciptakan suasana yang romantis.
Rasulullah tidak ingin romantis sendiri. Beliau juga ‘memanas-manasi’ para sahabatnya untuk menciptakan suasana yang sama. “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dari kalian terhadap istri. Dan aku yang terbaik di antara kalian terhadap istriku..” (HR at-Thabrani).
Jika pun Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq, maka akhlaq yang paling perlu ditata terlebih dahulu adalah akhlak dalam berumahtangga. Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR Abu Daud)
Maka, tunggu apa lagi?
#Kutip
#KisahNabiDanParaSahabat

PENYAKIT CINTA DUNIA TAKUT MATI


Sebab yang menyebabkan kaum muslimin lemah dan tertinggal dari musuh-musuh mereka adalah cinta dunia dan takut mati. Sebab ini muncul karena sebab utama di atas yaitu bodoh terhadap agama Allah
Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,”Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”
Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian adalah sampah yang dibawa oleh air hujan
Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (Shohih, HR. Ahmad dan Abu Daud)
Dalam hadits ini terlihat bahwa penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati) akan menimpa dan berada dalam hati-hati mereka. Mereka tidak mampu untuk menggapai kedudukan yang mulia dan tidak mampu pula untuk menjalani kehidupan sebagai seorang muslim yang kaffah
Hal ini disebabkan kecintaan mereka pada dunia dan kesenangan di dalamnya seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan selainnya. Mereka begitu bersemangat mendapatkan kesenangan seperti ini dan takut kehilangannya, sehingga mereka perlahan meninggalkan Agama Allah serta sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam
Begitu juga mereka menjadi bahil (kikir) sehingga mereka enggan untuk membelanjakan harta mereka kecuali untuk mendapatkan berbagai kesenangan dunia tanpa mempersiapkan bekal yang kekal
Artikel : @rumayshocom

KISAH INSPIRATIF – AMALAN RAHASIA DI BALIK TERKABULKANNYA DO’A


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Barangsiapa diantara kita yang bisa memiliki amalan yang tidak diketahui oleh manusia kecuali antara kita dengan Allah Subhanahu wata’ala maka lakukanlah, siapa diatara kita yang mampu memiliki amalan yang tidak ada satupun manusia yang mengetahuinya kecuali kita dengan Allah Subhanahu wata’ala maka lakukanlah.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu , dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, BeliauShallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya”. (HR. Al-Bukhari (no. 660, 1423, 6479, 6806, Muslim (no. 1031 (91)).
  1. Sedekah terang –terangan boleh akan tetapi jika mampu menyembunyikan maka itu lebih baik. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Dari Mu’awiyah bin Haidah Radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Sesungguhnya sedekah secara rahasia bisa meredam murka Rabb [Allah] tabaroka wata’ala”. (HR.Ath-Thabrani dalam al-Kabir, lihat Shahih at-Targhib [1/532]).
2. Dan seseorang yang berdzikir dalam keadaan sendiri tidak ada yang mengetahui kecuali dirinya dengan Allah Subhanahu wata’ala.
Ada seorang hamba yang tidak dikenal didunia tetapi dikenal dilangit, mereka tidak mau dikenal akhirnya mereka diperkenalkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, kisah orang – orang yang seperti ini dari kalangan ulama yang kita angkat kisahnya, mereka sangat menyembunyikan amalannya padahal betapa banyak orang terkenal se zaman dengan mereka.
Ketika Allah Subhanahu wata’ala cinta kepada hambanya maka Allah Subhanahu wata’alamemanggil jibril. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحْبِبْهُ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ

Abu Hurairah meriwayatkan dari Nabi, beliau bersabda: “Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Allah memanggil Jibril dan berfirman,’ sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu cintailah si fulan. Maka, Jibrilpun mencintai si fulan. Lalu, Jibril berseru ke penduduk langit, ‘ sesungguhnya Allah mencintai fulan, oleh karena itu hendaklah kalian mencintai fulan. Maka, penduduk langit pun mencintai si fulan. Kemudian, diletakkan untuk si fulan tersebut penerimaan di muka bumi”. (HR. Al-Bukhari, no. 3209). Seorang hamba tersebut mendapatkan penerimaan dan kecintaan dari manusia karena Allah Subhanahu wata’ala dan malaikat cinta kepadanya.
Kisah ini diceritakan oleh salah seorang tabi’in yang bernama Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah, kisah ini beliau ceritakan kejadiannya dikota madinah, pernah terjadi kemarau yang berkepanjangan dikota madinah semua penduduk kota madinah melakukan istighosah namun hujan tidak kunjung turun, suatu malam saya sholat isya dimasjidnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, saya kemudian bersandar disebuah tiang dibelakang masjid sambil duduk ditempat tersebut dan setelahnya saya tinggal untuk melakukan qiyamullail.
Para salaf setelah isya mereka menjadikan waktu malam untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala
Tiba – tiba datanglah seorang lelaki yang berkulit hitam agak kekuning – kuningan, ia menggunakan kain sarung dan juga kain selendang yang lebih kecil dari sarungnya ia kemudian shalat ditiang yang ada didepanku (Jadi orang yang masuk ini dia tidak merasa diperhatikan oleh Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah).
Orang ini berdiri sholat 2 rakaat kemudian ia duduk, setelah itu dia berdoa  dan Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah memperhatikan orang tersebut dan beliau mendengarkan apa yang diucapkannya ternyata dia berdoa:”Wahai tuhanku, sesungguhnya penduduk kota haram Nabimu ini mereka telah mekakukan istighosah tetapi engkau belum menurunkan hujan kepada mereka, aku bersumpah atas namamu ya rabb kepadamu ya Allah agar engkau menurunkan hujan untuk mereka“.Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah mengatakan:”Dalam hatiku saya berkata:”Mungkin ini orang gila”,
Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah mengatakan:”Ketika dia hendak menurunkan kedua tangannya, bahkan belum sempat menurunkan tangannya tiba – tiba saya mendengarkan suara Guntur dilangit, tiba – tiba turun hujan dan hujan itu menghalangiku untuk kembali ke rumahku  akan tetapi ketika orang ini mendengar dan melihat hujan mulai turun dia memuji Allah Subhanahu wata’ala dengan pujian yang tidak pernah saya dengarkan sebelumnya kemudian dia mengatakan:”Ya Allah Siapa saya ini, sampai engkau mengabulkan doa dan permohonanku”.
Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah tidak mengusik orang tersebut juga tidak menyapanya sampai masuk waktu subuh Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullahtetap tinggal dimasjid begitupun dengan orang tersebut, kemudian beliau qiyam, sebelum subuh orang tersebut sholat witir setelah azan ia kemudian sholat 2 rakaaat, kemudian sholat di iqamah dan ia bergabung dengan jama’ah yang lain dan saya juga sholat dengan kaum muslimin, ketika dia selesai sholat dia keluar dari masjid sambil saya mengikutinya, ketika dia berada dipintu masjid dia mengangkat pakaiannya begitupun juga dengan saya karena pada waktu itu hujan hingga air tergenang, kemudian ia pergi dan saya tidak tahu kemana ia pergi.
Ke’esokan harinya orang tersebut melakukan kebiasaan yang sama, Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah menunggu orang tersebut datang lagi setelah sholat subuh ia ikuti sampai dirumahnya, Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah hanya untuk melihat rumahnya, ketika matahari telah terbit saya keluar mendatagi rumahnya dan saya melihat ternyata profesi orang tersebut adalah tukang sol sepatu (penjahit sepatu) ketika ia melihatku ternyata ia mengenalku (karena memang Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah adalah salah seorang yang alim yang terkenal dikota madinah pada waktu itu sehingga ia dikenal oleh semua orang) orang tersebut berkata:”Aba Abdillah (kunniah Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah ) selamat datang bagimu wahai Aba Abdillah ada yang bisa saya bantu sepatu anda mau dijahit“, Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah kemudian berkata:”Bukankah saya ini teman anda beberapa malam yang lalu“. Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah memberitahukan apa yang dilakukan orang tersebut pada malam itu ketika ia berdoa sampai turun hujan”,
Akhirnya apa yang terjadi, orang ini kemudian marah dia tidak melihat lagi bahwa didepannya ini adalah seorang alim ia mengatakan:”Apa urusan anda dengan saya  dia langsung menutup pintu dan mengatakan:”silahkan pergi”.
Ke’esokan harinya Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullah menyesal dan beliau datang kepadanya untuk meminta maaf dari orang tersebut ternyata rumahnya sudah terkunci tidak ada orang didalam rumahnya. Muhammad Ibnu Al Mungkadir Rahimahullahbertanya kepada tetangganya apakah anda mengenal fulan kemana ia pergi, tetanganya kemudian mengatakan:”Apa yang terjadi, apa yang engkau lakukan kepadanya, kemarin setelah anda pergi ia mengemasi semua barang – barangnya kemudian dia pergi dan kami tidak tahu kemana dia sekarang”.
Orang ini ia berusaha menyembunyikan amalannya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallambersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ، مَدْفُوْعٍ بِالْأَبْوَابِ، لَوْ قَسَمَ عَلَى اللهِ لَأَبَرُّهُ
“Boleh jadi seseorang yang berambut kusut yang diusir oleh manusia dari pintu-pintu mereka, bila ia bersumpah atas nama Allah niscaya Allah akan mewujudkannya”. (HR. Muslim no. 2622). Begitu halnya dengan kisah diatas dimana dia mengatakan:”Ya Allah, saya bersumpah kepadamu atas manamu turunkan hujan”, dan Allah Subhanahu wata’alamengabulkan sumpahnya.
Wallahu A’lam Bish Showaab

INILAH 2 SURAH AL-QUR’AN YANG AKAN JADI PEMBELA PEMBACANYA DI HARI KIAMAT NANTI


Ada seratus empat belas surah didalam Al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah. Dalam semasing surat ada kelebihan yang tidak dipunyai surat lain. Kelebihan iaitu kelebihan tetapi bukan bermakna satu surah lebih rendah dari pada surah lain.
Dua surah yang membela pembacanya di hari kiamat akan berikan pelajaran untuk kita bila sekecil apa pun amalan baik kita didunia, Allah akan memberi balasan yang lebih besar.
Walau, semua dalil yang ada didalam Al-Qur’an dan hadis mempunyai manfaat untuk manusia, namun kita boleh menggunakan dua surah ini sebagai pembela di akhirat kelak.
Surah Al-Ikhlas bersamaan dengan satu pertiga kandungan Al-Qur’an. Hal sejenis ini jadi basic beberapa ulama mempunyai pendapat bila membaca surat Al-Ikhlas sejumlah tiga kali sama bererti apabila kita membaca tiga puluh juz Al-Qur’an.
Diluar itu, beberapa ulama lain mempunyai pendapat bila satu pertiga itu berkaitan dengan kandungan makna didalam surah ke 112 itu. Tersebut manfaat surah al Baqarah yang perlu digunakan sebaik-baiknya dalam kehidupan seharian sebagai amalan baik kita.
Rasulullah juga menjelasakan surah lain, iaitu surah Al-Baqarah. Surah ini yakni surah terpanjang yang mempunyai 286 ayat.
Diluar itu, dalam surah ini boleh ada ayat terpanjang di dalam Al-Qur’an yaitu terdapat pada ayat 282 Surah ini mempunyai keutamaan iaitu boleh buat syaitan lari dari tempat tinggal yang orang di dalamnya membacakan surat Al-Baqarah.
Tempat tinggal yang dihuni oleh setan jadi manusia yang menghuninya akan dengan mudah dihumbankan dalam perbuatan maksiat.
Imam Ahmad meriwayatkan sabda Rasul yang mengandungi bahawa seluruhnya ayat didalam Al-Qur’an dapat berikan syafaatnya pada pembacanya di kehidupan akhirat nanti.
Oleh kerananya, sempatkan diri sehari-hari untuk membaca surah didalam Al-Qur’an. Tetapi, semakin lebih baik bila kita juga mengerti arti dari ayat itu agar dapat mengamalkannya dalam kehidupan seharian.
Bila surah Ali ‘Imran dipadukan dengan surah Al-Baqarah (disebut az-Zahrawain), jadi hadis dari Abu Umamah ini meneruskan tujuannya, iaitu cadangan untuk membaca az-Zahrawain kerana ke-2 suraht itu akan tiba di hari akhir seperti tumpukan awan atau seperti dua kumpulan burung yang melebarkan sayapnya atau dua benda yang menaungi yang bakal membela untuk pembacanya.
Keunggulan surah al Baqarah tidak kurangkan manfaat daripada surat-surat lain sebagai panduan dalam melakukan hidup di jalan Allah. Semuanya dalil didalam Al-Qur’an dan hadis boleh jadikan asas hidup.
Imam Muslim juga meriwayatkan perintah untuk membaca surah Al-Baqarah kerana akan menghadirkan banyak barokah. Bila kita tidak mengamalkannya iaitu satu kerugian untuk kita.
Bahkan juga tukang sihir akan tidak dapat mencapai pembacanya. Imam Muslim dan Bukhari didalam sahihnya mengatakan apabila Rasulullah pernah membaca ke-2 surah ini didalam satu rakaat solat.
Hal semacam ini menunjukkan bila ke-2 surah ini mempunyai kelebihan sendiri hingga Rasulullah memakainya sebagai surah pendek dalam solatnya.
Sebagai seseorang muslim, manfaat membaca surah al-ikhlas sehari-hari dapat kita kerjakan untuk meningkatkan keimanan dan mendekatkan diri pada Allah. Janganlah membiarkan satu detik juga terlewati tanpa ada kita mengingat Allah.
Banyak amalan yang boleh kita lakukan agar selalu mengingat Allah disetiap langkah kita. Allah sudah sediakan beberapa pilihan amalan baik sehingga kita boleh lakukan beribadah sunnah mana yang boleh kita kerjakan sesuai sama kekuatan.
Share jika bermanfaat

2 Amalan mulia ini tak bisa dilakukan oleh malaikat, tapi bisa dilakukan manusia


Sebagai orang muslim, Anda tentu mengenal malaikat? Ya, Malaikat. Makhluk yang terbuat dari cahaya ini memang begitu berpengaruh bagi kehidupan kita. Sebab, setiap amalan baik dan buruk dicatat olehnya.
Malaikat memang pesuruh Allah Subhanahu wa Ta’ala yang selalu taat kepada-Nya. Tak pernah satu kali pun mereka melakukan dosan dan membangkang pada perintah Allah
Kendati demikian, tahukah Anda bahwasanya ada dua amalan yang tidak bisa dilakukan oleh malaikat? Ya, amalan itu hanya bisa dilakukan oleh kita, sebagai manusia. Apa itu?
1. Orang Kaya yang Membantu Orang MiskinTernyata malaikat tak bisa melakukan amalan yang dilakukan oleh orang yang beriman, yakni ketika orang kaya memberikan bantuan kepada orang miskin.Karena malaikat bukanlah makhluk yang dilimpahi karunia berupa harta benda oleh Allah SWT. Dan mereka tidak ada yang punya uang, rumah dan harta benda lainnya, serta tidak berpredikat kaya atau miskin.
Ada banyak keutamaan yang akan diperoleh ketika kita mampu membantu orang lain. Terlebih membantu anak yatim dan orang miskin yang hidup dalam keadaan serba kekurangan.
Tak heran jika para malaikat sangat kagum dengan manusia yang mampu melaksanakan amalan ini dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho Allah SWT.
Maka berbahagialah manusia yang dilimpahi kekayaan kemudian dia pergunakan hartanya untuk menolong anak yatim dan fakir miskin yang membutuhkan bantuan.
2. Taubatnya Seseorang yang Senantiasa Berbuat Dosa Diiringi Tangisan Penyesalan DarinyaAmalan yang dilakukan oleh manusia namun tidak bisa diamalkan oleh para malaikat yang kedua adalah seseorang yang berbuat dosa namun bertaubat nasuha diiringi dengan tangisan penyesalan darinya.
Seperti kita ketahui bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak pernah luput dari perbuatan dosa. Berbeda dengan malaikat, makhluk Allah yang diciptakan dari Nur ini sama sekali tidak pernah tersentuh perbuatan dosa setitik pun.
Meski demikian, Para malaikat akan merasa kagum ketika melihat seorang manusia yang bertaubat kepada Allah dan menyesali atas semua dosanya diiringi dengan tangisan penyesalan.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Rasulullah bercerita kepada para sahabatnya tentang seseorang sedang dalam perjalanan yang menunggangi seekor kuda, ia membawa seluruh hartanya berupa emas, berlian, dirham dan sebagainya yang juga diangkut diatas kudanya.
Karena lelah setelah berjalan jauh, kemudian orang tersebut beristirahat dibawah pohon dan ia juga menambatkan tali kudanya di pohon.
Ketika terbangun dari tidurnya, ia sungguh terkejut karena kudanya sudah tidak ada, begitupun semua harta bendanya. ia pun mencari sampai kemana-mana namun tetap tidak ditemukan.
Hingga akhirnya ia pasrah dan kembali istirahat dibawah pohon karena lelah mencari. Ajaibnya ketika ia terbangun, kudanya dan semua harta bendanya kembali ada didepannya tanpa ada satupun yang hilang. Dan alangkah bahagianya orang tersebut.
Rasulullah kembali menjelaskan. “Allah jauh lebih bahagia dibandingkan orang tersebut, jika ada hamba-Nya yang telah lama jauh dari-Nya, walaupun banyak melakukan dosa namun ia kembali kepada-Nya dan bertaubat. “
Demikianlah Dua Amalan Mulia Yang Tak Bisa Dilakukan Malaikat. Betapa bahagianya kita diciptakan sebagai manusia yang bisa memberikan kesempatan untuk beramal shaleh, bahkan tidak bisa dilakukan oleh para malaikat.
Subhanallah, Semoga kita senantiasa berada di jalan Allah SWT. Aamiin.
Sumber: kabarmakkah.com
Share jika bermanfaat

Monday, March 5, 2018

Tak disangka 3 doa ini, ternyata manfaatnya luar biasa



Syeikh Abdul Aziz Bin Baaz (semoga Allah merahmatinya) berkata : Merupakan 3 doa yang janganlah kau lupakan dalam sujud
1. Mintalah Diwafatkan Dalam Keadaan Khusnul Khotimah
اللهم إني أسألك حسن الخاتمة
Allahumma inni as’aluka husnal khotimah
Artinya: “Ya Allah aku meminta kepada-MU husnul khotimah”
2. Mintalah Agar Kita Diberikan Kesempatan Taubat Sebelum Wafat
اللهم ارزقني توبتا نصوحا قبل الموت
Allahummarzuqni taubatan nasuha qoblal maut
Artinya: “Ya Allah berilah aku rezeki taubat nasuha (atau sebenar-benarnya taubat) sebelum wafat”
3. Mintalah Agar Hati Kita Ditetapkan di Atas Agamanya
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك
Allahumma yaa muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘ala diinika
Artinya: “Ya Allah wahai sang pembolak balik hati, tetapkanlah hatiku pada agama-MU”
Kemudian saya sampaikan, jika kau sebarkan perkataan ini, dan kau berniat baik denganya, maka semoga menjadikan mudah urusan urusanmu di dunia dan akhirat.
Lakukanlah kebaikan walau sekecil apapun itu, karena tidaklah kau ketahui amal kebaikan apakah yang dapat menghantarkanmu ke Surga Allah.